ceritakan secara singkat hubungan antara kerajaan majapahit dengan terbentuknya kerajaan demak, pajang, dan mataram
Sejarah
rifaialbatawie17
Pertanyaan
ceritakan secara singkat hubungan antara kerajaan majapahit dengan terbentuknya kerajaan demak, pajang, dan mataram
1 Jawaban
-
1. Jawaban arzettywy
Pada pertengahan pertama abad 16, kerajaan Majapahit yang bersifat Hindu mengalami keruntuhan. Runtuhnya Majapahit ditandai dengan terjadinya disintegrasi wilayah. Tebukti banyak daerah-daerah Islam tidak mau lagi kepada Majapahit yang beragama Hindu itu. Oleh penulis babad, tanda-tanda runtuhnya Majapahit dilukiskan dengan kata-kata Sinar Ilang Kertaning Bumi, yaitu sebagai pertanda tidak ada kemakmuran dan ketentraman Negara. Kata-kata itu sebenarnya merupakan sangkalan yang menunjuk angka tahun 1400 saka atau tahun 1478 Masehi.
Runtuhnya Majapahit kemudian diikuti dengan munculnya dinasti baru, kerajaan Demak di bawah pimpinan Raden Patah, seorang keturunan Majapahit yang telah memeluk Agama Islam. Daerah-daerah Islam di pantai utara Jawa, di bawah dominasi Bintara Demak, berusaha melakukan suksesi terhadap Majapahit. Ketika terjadi penyerbuan oleh pasukan Demak, raja Majapahit terakhir Prabu Brawijaya (Bhre Kertabumi) berhasil lolos meninggalkan istana. Bersamaan dengan itu, terlihat cahaya memancar terang muncul dari istana Majapahit, naik ke atas dan terbang ke arah barat, jatuh di Bantara Demak.
Bagi masyarakat Jawa, berpindahnya kedudukan raja dari Majapahit ke Demak yang ditandai dengan munculnya andaru itu merupakan cara atau bentuk pengesahan (legitimasi) yang paling meyakinkan. Andaru dianggap sebagai sebuah wahyu yang mempunyai kekuatan dan kemampuan yang besar. Siapapun jika mendapat wahyu dari Tuhan berupa pulang kraton atau kekuatan suci, maka orang itu akan memimpin tanah Jawa dan akan mewarisi pula tahta kerajaan. Dengan demikian ia akan dapat menguasai tanah jawa.
Keberadaan kasultanan Demak tidak lama hanya sekitar 40 tahun. Sesudah Raden Patah, keadaan tidak tenang lagi. Raja Demak terakhir, Sunan Prawata dibunuh oleh kemenakanya, Arya Penangsang kira-kira pada tahun 1548. Arya Penangsang memerintah Jipang sebagai raja bawahan. Tujuannya ialah mambalas dendam atas kematian ayahnya yang telah dibunuh atas perintah Sunan Prawata. Mungkin juga Arya Penangsang berwenang menduduki tahta Demak. Akan tetapi pada saat hendak meduduki tampuk kekuasaan gugurlah dia. Ia terbunuh dalam pertempuran melawan lascar Jaka Tingkir (penguasa Pajang) yang dibantu oleh Ki Penjawi dan Ki Pemanahan. Jaka Tingkir bertindak sebagai pembalas atas kematian Pangeran Hadiri (Kyai Kalinyamat) dari Jepara, ipar Sunan Prawata yang telah menemui ajalnya juga karena ulah Arya Penangsang.
Jaka Tingkir adalah bekas kepala pengawal sekaligus menantu Sultan Prawata. Ia berasal dari Pengging di Selatan Gunung Merapi. Oleh karena lahir di Desa Tingkir, dekat Salatiga, maka ia dinamakan jejaka dari Tingkir. Sebagai pewaris kerajaan Demak, Jaka Tingkir kemudian bergelar Sultan Hadiwijaya dan mendirikan kraton di Pajang. Ia memerintah di Pajang selama hamper 20 tahun (1568-1586).
Sultan Hadiwijaya sebagai pewaris kerajaan Demak sebenarnya bukan keturunan langsung dari pendahulunya. Tampilnya Hadiwijaya sebagai raja dirasa tidak melalui prosedur yang biasa. Untuk itu raja melalui penulis babad perlu membuat berbagai upaya legitimasi agar tidak menimbulkan keraguan pada rakyat yang diperintahnya. Diantara-bentuk-bentuk legitimasi itu antara lain berupa mitos-mitos keajaiban. Misalnya, Hadiwijaya digambarkan mampu mengalahkan 40 buaya (bajul) yang kemudian dengan taatnya mendorong rakit sampai ke Demak.
Secara historis, perpindahan pusat kerajaan baik dari Majapahit maupun dari Demak ke Panjang bukan semata-mata berdasarkan pulung atau wahyu belaka, tetapi memang kenyataannya terdapat usaha dari yang bersangkutan untuk mempergunakan haknya senagai penerus tahta. Hal ini terlihat dari daftar silsilah yang termuat dalam babad Tanah Jawi, sebagai berikut:
1. Prabu Brawijaya penghabisan berputra Raden Patah, Sultan Demak pertama.
2. Prabu Brawijaya penghabisan berputra seorang puteri yang menjadi isteri Jaka Sengara (Adipati Dayaningrat di Pengging) berputera kyai Kebo Kenanga, berputera Mas Karebet), Sultan Pajang pertama.
Dari silsilah tersebut terlihat, bahwa Demak dan Pajang sama-sama berasal dari satu dinasti, yaitu Majapahit. Maka tidaklah mengherankan apabila perang batin dan perebutan mahkota selalu terjadi. Demikian pula perebutan kekuasaan berulang kembali pada masa akhir Pajang dan awal Mataram.
Seperti telah disebut, bahwa usaha Aria Penangsang untuk merebut tahta kerajaan Demak dapat digagalkan oleh Jaka Tingkir yang dibantu oleh Ki Penjawi dan Ki Pemanahan. Sebagai hadiah atas jasa-jasa itu, Ki Penjawi dianugerahi tanah di daerah Pati oleh raja Pajang, dan Ki Pemanahan memperoleh daerah Mataram yang semula masih berupa hutan. Ki Pemanahan selanjutya mengubah nama dirinya menjadi Ki Ageng Mataram.